Rabu, 01 Mei 2013

Parallel Structure & Paired Conjunctions

A. Combine the given sentences into one sentence that contain parallel structure

1. Mary is opening the door and greeting her guests.
2. Mary is kind,generous and trustworthy.
3. I like coffee but I don’t like tea.
4. I have met her mother but haven’t met her father.
5. I should have finished my homework and cleaned my room.
6. He decided to quit school,to go to California and find a job.
7. He enjoys reading novel and watching tv  in his spare time. 

B. Combine the following into sentences that contain parallel structure. Use appropriate paired conjunction
8. Either we could fly or take the train.
9. You not only can have tea but also can have coffee.
10.Not only Arthur but also Ricardo is absent.
11.Both Nico and his brother doesn’t understand English.
12.Neither Bob nor Alex in class today.
13.Either Ron nor Bob enjoys horseback riding.
14.According to the news report, either will snow tonight or rain tonight.
15.Neither the library nor the bookstore doesn’t have the book I need.

Selasa, 02 April 2013

Description of my personality

My name is Jordan Laditra Siahaan,lot of people called me Jordan. I've lived in Lebak Bulus,South Jakarta since 1994. Now I’m 19th years old. My major is Management of Economy in Gunadarma University. I'm already graduated from 66 Senior High School,almost 1 years ago.

I have many hobbies. Eating & Sleeping is either of my hobbies. The others is watching cinema,traveling,and browsing the internet.


I have big dreams,to make my parents happy and being success. But i think,to realize that dreams is very difficult. But now,i just have motivation to myself  "I must make my parents proud of me". So that's just the key to make my parents happy.
I really want to be a businessman. That's why i took this major because it can support my dream.

Now,my target is to get a high GPA in this University. If i get that i want,surely my parents will proud of me. And i know to get a high GPA,i must study hard. After study hard,play harder.....

So that's the stratch of my description...How about you,SIR?

Present Perfect - 2 (Softskill English)

Nominal Sentences :


1. (+) He has been healthy since yesterday.
    (-) He hasn't  been healthy since yesterday.
    (?) Has she been healthy since yesterday?

2. (+) I have been happy.
     (-) I have not been happy.
     (?) Have I  been happy?

3.  (+) You have been in Thailand recently.
    (-) You haven’t been in Thailand recently.
    (?) Have you been in Thailand recently?


4. (+) We have been tired since Yudha here.
    (-) We haven’t  been tired since Yudha here.
    (?) Have we been tired since Yudha here?


5. (+) She has been lived in Bandung since eight months ago.
     (-) She hasn't been lived in Bandung since eight months ago.
     (?) Has she been lived in Bandung since eight months ago?

6.   (+) I have just been in this building.
     (-) I haven’t been in this building.
     (?) Have I been in this building? 


7. (+) Dimas has been an accountant for one years.
     (-) Dimas has not been an accountant for one years.
     (?) Has Dimas been an accountant for one years?

8.  (+) He has been read a book.
     (-) He hasn’t been read a book.
    (?) Has he been read a book?


9.  (+) We have been in Lebak Bulus since 2001.
     (-) We haven’t  been in Lebak Bulus since 2001.
     (?) Have we been in Lebak Bulus since 2001? 


10. (+) Rio has been a manager in the office last week.
      (-) Rio has not been a manager in the office last week.
      (?)  Rio been a manager in the office last week?

Present Perfect (Softskill English)

Verbal Sentences :

1. (+) I have invited my friends to my farewell party
    (-) I have not invited my friends to my farewell party
    (?) Have I invited my friends to my farewell party?

2. (+) He has called me yesterday
    (-) He has not called me yesterday
    (?) Has He called me yesterday?

3. (+) He has watched the cinema last night
    (-) He has not watched the cinema last night
    (?) Has he watched the cinema last night?

4. (+) I have waited you for 30 minutes ago
    (-) I have not waited you for 30 minutes ago
    (?) Have I waited you for 30 minutes ago?

5. (+) He has played football yesterday.
    (-) He has not played football yesterday.
    (?) Has he played football yesterday?

6. (+) Irfan has moved there last month.
    (-) Irfan has not moved there last month.
    (?) Has Irfan moved there last month?

7. (+) I have packed my book to the bag.
    (-) I have not packed my book to the bag.
    (?) Have I packed my books to the bag?

8.  (+) He has studied for UTS today.
     (-) He has not studied for UTS today.
     (?) Has he studied for UTS today?

9.  (+) You have cried last night.
     (-) You have not cried last night.
     (?) Have you cried last night?

10. (+) Andry has cleaned his room.
      (-) Andry has not cleaned his room.
      (?) Has Andry cleaned his room?

Senin, 21 Januari 2013

Pengaruh Budaya Organisasi Terhadap Kemampuan Manajerial

KATA PENGANTAR



Puji serta syukur saya ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkat Rahmat-Nya saya dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul “Pengaruh Budaya Organisasi Terhadap Kemampuan Manajerial”. Makalah ini juga di buat berdasarkan tugas dari mata kuliah Ilmu Budaya Dasar.

Saya mengucapkan terima kasih kepada teman serta sumber-sumber yang telah membantu saya dalam menyelesaikan makalah ini. Saya ucapkan terima kasih juga kepada Bapak dosen Ilmu Budaya Dasar, yaitu Bapak Heri Suprapto karena telah memberikan saya kesempatan untuk membuat makalah ini.
Karena keterbatasan waktu, tenaga dan kemampuan, saya menyadari makalah ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu, saya mengharapkan para pembaca dapat memaklumi setiap kekurangan dalam makalah ini.
Terima kasih, dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi saya pribadi dan juga kita semua.


Jakarta,10 Januari 2013




Penulis






BAB I
LATAR BELAKANG
Peran manajer dalam organisasi sangat menentukan efektivitas organisasi. Efektif di sini artinya manajer menjalankan pekerjaan yang benar, sehingga tujuan organisasi dapat tercapai. Untuk mencapai efektivitas organisasi, kegiatan/ fungsi manajer mengarah pada perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan dan pengendalian. Seberapa jauh organisasi mencapai tujuan tergantung pada kinerja manajernya, artinya bagaimana ia menjalankan kegiatan/ fungsinya.
Kotter dan Hesket (1997) mengatakan peranan manajer sangat penting. Mereka mengatakan bahwa ketika anggota organisasi merasa tidak perlu ada perubahan, maka seorang manajer dengan visi yang jelas dan gaya komunikasi yang baik dapat menciptakan kebutuhan akan perubahan untuk kemajuan perusahaan. Barney (dalam Javidan 1998) menyebutkan salah satu sumber daya organisasi adalah budaya dan reputasi.
Secara konseptual bagaimana budaya organisasi dapat mempengaruhi perilaku individu dalam organisasi adalah karena adanya kesamaan persepsi. Persepsi ini didasarkan pada dugaan bahwa cara beradaptasi dan menyesuaikan diri individu dengan lingkungan kerjanya kan lebih baik bila nilai-nilai yang terdapat dalam organisasi sesuai harapan setiap invidu.
Budaya organisasi mempengaruhi sejumlah keluaran seperti kinerja suatu organisasi. Kotter dan Hesket (1997) menemukan bahwa perusahaan dengan budaya yang mementingkan pelanggan, pemegang saham dan karyawan berkinerja lebih baik dibandingkan perusahaan yang tidak memiliki ciri-ciri tersebut.
Mengingat pentingnya kinerja manajerial dalam mencapai tujuan organisasi dan terbatasnya penelitian mengenai pengaruh budaya organisasi terhadap kinerja manajerial, maka saya membuat makalah ini.


RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat ditentukan rumusan masalah sebagai berikut:
Bagaimana pengaruh budaya organisasi terhadap kinerja manajer
Dimensi apa saja yang ada dalam budaya organisasi


TUJUAN
Untuk menambah wawasan khususnya yang berkaitan dengan budaya organisasi.
Untuk mengetahui sejauh mana peran budaya organisasi dapat meningkatkan kinerja manajer.
Untuk mengetahui bagaimana cara organisasi dalam mengelola budaya organisasi agar tujuan perusahaan tercapai.

2.
BAB II

KINERJA MANAJERIAL
Manajer bekerja melalui orang lain. Istilah “orang” di sini bukan saja bawahan dan supervisor, tetapi juga manajer lain dalam organisasi yang bersangkutan. Pengertian “orang” juga mencakup individu-individu di luar organisasi, seperti: pelanggan, pemasok, dan sebagainya. Orang-orang ini dan yang lainnya menyediakan barang dan jasa bagi organisasi atau menggunakan produk atau jasa yang di hasilkan organisasi. Dengan demikian para manajer bekerja dengan siapa saja pada setiap tingkat baik didalam maupun di luar organisasi yang dapat membantunya dalam mencapai tujuan organisasi.
Tujuan para manajer dalam setiap organisasi ialah menciptakan perilaku yang dikoordinasikan sehingga organisasi tersebut dinilai efektif oleh mereka yang mengevaluasi hasilnya. Untuk mencapai efektivitas organisasi, fungsi manajer diarahkan pada kegiatan perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian. Perencanaan memungkinkan manajer menetapkan prosedur terbaik untuk mencapai sasaran dan tujuan organisasi. Pengorganisasian merupakan kegiatan merancang dan mengembangkan organisasi agar dapat menjalankan apa yang telah direncanakan.
Seberapa jauh sebuah organisasi mencapai tujuan, tergantung pada kinerja manajer dalam organisasi tersebut, artinya bagaimana dia menjalankan kegiatan/ fungsinya. Namun untuk mencapai kinerja yang baik kemampuan seorang manajer semata-mata tidaklah cukup. Diperlukan sumber daya organisasi yang lain agar kinerja seorang manajer menjadi baik yang pada giliranya akan mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi.
Berdasarkan uraian diatas, terlihat bahwa kinerja manajerial dipengaruhi oleh sumber daya organisasi termasuk juga pengaruh budaya organisasi.


BUDAYA ORGANISASI
Budaya (culture) telah didefinisikan dengan berbagai cara dan masih sedikit kesepakatan mengenai definisi yang tepat (Pratt dan Beaulieu, 1992). Budaya merupakan sekumpulan nilai-nilai, kepercayaan dan norma yang dirasakan bersama (Umiker, 1999). Budaya selalu merupakan suatu perwujudan bersama, karena budaya setidak-tidaknya dirasakan sebagian orang yang hidup atau tinggal pada lingkungan social yang sama, dimana budaya dipelajari, yang membedakanya dengan orang di luar lingkunganya (Hofstede, 1997).
Manifestasi budaya dibagi dalam empat kategori (Hofstede 1990;1997) yaitu, symbols, heroes, rituals, danvalue. Symbols adalah kata-kata, isyarat, gambar, atau benda yang membawa arti khusus dalam budaya. Heroes adalah orang-orang baik yang hidup atau telah meninggal, nyata atau imajiner, mempunyai karakteristik yang bernilai tinggi dalam budaya dan sekaligus diperlakukan sebagai panutan dalam berperilaku. Rituals adalah kegiatan bersama yang secara teknis berebih-lebihan namun secara sosial penting dalam budaya.Symbols, heroes dan rituals digolongkan dalam istilah practices, karena ketiganya kelihatan oleh pengamat/ pihak luar meskipun arti budayanya terletak acara anggota mempersepsikanya. Inti dari budaya dibentuk oleh values. Values adalah perasaan yang memiliki sisi positif dan negatif, yang terdiri dari baik dan jahat, cantik dan buruk, normal dan abnormal, paradox dan logis rasional dan irasional (perasaan-perasaan dibawah sadar dan jarang didiskusikan), mereka tidak dapat diamati namun diwujudkan dalam sikap perilaku.


DEFINISI BUDAYA ORGANISASI
Budaya organisasi adalah nilai-nilai yang dirasakan bersama oleh anggota organisasi (sub unit organisasi) yang diwujudkan dalam bentuk sikap perilaku dalam organisasi (Pratt dan Beaulieu, 1992. Schein (1992) mendefinisikan budaya organisasi sebagai pola asumsi dasar (digali, ditemukan atau dibangun suatu kelompok sebagai pembelajaran untuk menanggulangi masalah-masalah yang berkaitan dengan adaptasi). Eksternal dan Integrasi internal yang telah bekerja dengan baik untuk dianggap bernilai, oleh karena itu diajarkan kepada anggota baru sebagai cara yag benar untuk mempersepsikan, memikirkan dan merasakanya dalam hubunganya dengan masalah tersebut.
Selain itu Kotter dan Hesket (1997) mengatakan bahwa budaya organisasi mempunyai dua tingkatan yang berbeda dilihat dari sisi kejelasan dan ketahanan mereka terhadap perubahan. Pada tingkatan yang lebih dan kurang dalam terlihat, budaya merujuk pada nilai-nilai yang dianut bersama oleh orang dalam kelompok-kelompok dan cenderung bertahan sepanjang waktu meskipun anggota kelompok telah berubah. Pada tingkatan yang lebih terliha, budaya menggambarkan pola atau gaya perilaku suatu organisasi sehingga karyawan baru secara otomatis terdorong untuk mengikuti perilaku sejawatnya (norma perilaku kelompok).
Melalui uraian di atas, terlihat walaupun terdapat berbagai definisi budaya organisasi namun terlihat terdapat pengakuan akan pentingnya norma bersama dan nilai-nilai yang membimbing perilaku anggota organisasi.
Budaya organisasi memiliki beberapa karekteristik (Luthan, 1998) seperti dibawah ini:
a. Observed behavioral regulities, ketika anggota organisasi berinteraksi dengan yang lainnya, mereka menggunakan bahasa yang umum, terminology dan ritual yang berhubungan dengan rasa hormat dan cara bertindak.
b. Norms, pedoman perilaku termasuk petunjuk bagaimana pekerjaan dilakukan.
c. Dominant values, terdapat nilai-nilai utama yang dianjurkan organisasi dan diharapkan dirasakan bersama para anggota. Misalnya kualitas produk, tingkat kehadiran (low absenteeism)dan efisiensi.
d. Phisolopy, terdapat kebijakan yang mengatur keyakinan organisasi tentang bagaimana pegawai atau pelanggan diperlakukan.
e. Rules, terdapat petunjuk ketat/teliti yang berhubungan dengan kelangsungan keanggotaan organisasi.
f. Organizational climate, ini merupakan keseluruhan perasaan yang dibawa dengan kesiapan jasmani, cara anggota organisasi berinteraksi dan berperilaku diantara mereka dan dengan pelanggan atau pihak luar lainnya.
DIMENSI BUDAYA ORGANISASI
Budaya organisasi meresap dalam kehidupan organisasi dan selanjutnya mempengaruhi setiap aspek kehidupan organisasi (Saffold, 1988). Oleh karena itu, budaya organisasi berpengaruh sangat besar pada aspek-aspek fundamental dari kinerja organisasi (Gardner, 1999). Jika budaya organisasi merupakan aspek penting dalam meningkatkan kinerja maka budaya organisasi harus dikelola dengan baik. Untuk dapat mengelola dengan baik diperlukan pengertian yang jelas dan perhatian terhadap budaya organisasi.
Menurut Denison (2000) untuk menggunakan budaya organisasi sebagai kunci pengungkit perubahan organisasi dalam meningkatkan kinerja terdapat tiga pendekatan: Pertama membuat manajer sadar akan bukti-bukti yang menghubungkan budaya dan kinerja; Kedua membantu mereka mengerti pengaruh yang kuat, baik positif maupun negatife dari budaya; dan Ketiga, mendiskusikan budaya menggunakan bahasa yang dapat dimengerti manajer dan cepat dihubungkan dengan perilaku mereka sendiri.
Denison (1990;2000) mengembangkan model budaya organisasi yang berakar pada penelitian tentang bagaimana budaya mempengaruhi kinerja organisasi, dan di fokuskan pada sifat-sifat budaya yang mempunyai pengaruh kunci pada kinerja bisnis. Model budaya organisasi tersebut didasarkan pada empat sifat budaya yaitu: involvement (keterlibatan),consistency (konsistensi), adaptability (adaptabilitas), danmission (misi). Keempat dimensi budaya organisasi ini telah terbukti mempengaruhi kinerja organisasi sehingga diduga mempengaruhi kinerja manajerial juga.
Pemilihan modal budaya Denison dalam penelitian karena dirasa lebih sesuai dengan kebutuhan praktis. Menurut Denison (1990) model budaya organisasi dengan keempat dimensinya mencerminkan pandangan akademik dan konsultan dan biasanya melibatkan kolaborasi yang erat dengan manajer dan organisasinya.
Berikut ini diuraikan empat dimensi budaya organisasi menurut Denison:


Keterlibatan. Organisasi yang efektif memberdayakan orang-orangnya, membangun organisasi dalam tim, dan mengembangkan kemampuan SDM pada semua level. Anggota-anggota organisasi mempunyai komitmen terhadap pekerjaannya dan merasa mempunyai sedikit andil dalam organisasi. Orang-orang pada semua tingkatan merasa bahwa mereka sedikitnya mempunyai input terhadap keputusan-keputusan yang berakibat pada pekerjaanya dan merasa pekerjaanya berhubungan langsung dengan tujuan organisasi. Indicator keterlibatan adalah pemberdayaan, orientasi tim, dan pengembangan kemampuan.
Keterlibatan dalam hubungan antara budaya dan efektivitas bukanlah hal baru karena telah banyak literatur perilaku organisasi yang membahasnya. Gagasan pokoknya adalah efektivitas organisasi merupakan fungsi dari tingkat keterlibatan dan partisipasi para anggota organisasi. Konsep ini mengemukakan bahwa tingkat keterlibatan dan partisipasi yang tinggi menciptakan kesadaran akan kepemilikan (sense of ownership) dan tanggung jawab. Dari kesadaran ini timbul komitmen yang lebih besar pada organisasi dan kebutuhan yang lebih sedikit akan sistem kontrol yang ketat.
Dimensi keterlibatan yang membuat nilai-nilai orientasi tim, meningkatkan pemberdayaan anggota dan pengembangan kemampuan telah terbukti berpengaruh terhadap kinerja organisasi secara keseluruhan termasuk juga kinerja para manajer tentunya. Budaya organisasi yang membuat dimensi keterlibatan memampukan manajer melaksanakan tugasnya dengan baik.
Hipotesis: Terdapat pengaruhpositif yang signifikan antara dimensi keterlibatan dalam budaya organisasi terhadap kinerja manajerial.
Konsistensi. Penelitian menunjukan efektivitas organisasi terjadi karena organisasi tersebut konsistensi dan terintegrasi secara baik. Sikap perilaku seseorang berakar pada sekumpulan nilai-nilai inti bersama, para pemimpin, dan anggota dilatih pada pencapaian kesepakatan (walaupun mereka mempunyai perbedaan sudut pandang). Organisasi dengan sifat-sifat seperti ini mempunyai budaya yang khusus dan kuat yang secara signifikan mempengaruhi sikap perilaku anggota pada kemampuan mereka dalam mencapai kesepakatan dan melakukan tindakan-tindakan terkoordinasi.
Indikator konsistensi adalah nilai-nilai inti, kesepakatan, koordinasi, dan integrasi. Dalam konteks organisasi koordinasi dan integrasi antar unit / divisi sering merupakan hal yang sulit untuk dilaksanakan. Masing-masing unit sering merasa tidak peduli dengan yang lain dalam arti lebih mementingkan kebutuhan unitnya masing-masing tanpa memperhatikan kepentingan organisasi secara keseluruhan.
Hipotesis: Terdapat pengaruh postif yang signifikan antara dimensi konsistensi dalam budaya organisasi terhadap kinerja manajerial.
Adaptabilitas. Organisasi yang telah terinterasi dengan baik sering sangat sulit untuk dirubah. Integrasi kedalam dan adaptasi keluar dapat menjadi rintangan. Organisasi yang dapat beradaptasi digerakkan oleh pelangganya, mengambil resiko dan belajar dari kesalahanya, dan mempunyai kemampuan serta pengalaman untuk menciptakan perubahan. Mereka terus-menerus meningkatkan kemampuan organisasi untuk memberikan nilai yang berharga bagi pelangganya. Organisasi yang memiliki ciri tersebut dikatakan sebagai organisasi yang memiliki adaptabilitas karena indikator adaptabilitas adalah kemampuan menciptakan perubahan, fokus pada pelanggan, kemampuan organisasi untuk belajar.
Budaya yang dapat membantu organisasi mengantisipasi dan beradaptasi dengan perubahan lingkungan, akan diasosiasikan dengan kinerja yang superior dalam periode waktu yang panjang. Budaya yang demikian disebut budaya adatif yang membantu perusahaan beradaptasi terhadap lingkungan yang berubah dengan memungkinkanya mengidentifikasi dan mengeksploitasi peluang-peluang baru. Para anggota percaya bahwa mereka dapat menata secara efektif masalah baru dan peluang yang mereka temui serta siap menanggung resiko.
Buday yang tidak adaptif biasanya sangat birokratis. Orang-orangnya reaktif, menolak resiko dan sangat tidak kreatif. Budaya, baik adaptif maupun tidak adaptif sangat mempengaruhi manajer dalam melaksanakan tugas-tugas manajerial. Ternyata masalah kunci organisasi terletak pada ketidakmampuan organisasi melakukan adaptasi.
Dalam budaya adaptif manajer sangat peduli pada pelanggan, pemegang saham dan karyawan. Mereka sangat menghormati orang dan proses yang dapat menciptakan perubahan yang bermanfaat bahkan memprakarsai perubahan bila dibutuhkan walaupun menuntut pengambilan resiko.
Hipotesis: terdapat pengaruh positif yang signifikan antara dimensi adaptabilitas dalam budaya organisasi terhadap kinerja manajerial.
Misi. Mungkin sifat budaya yang paling penting adalah misi. Organisasi yang berhasil mempunyai arah dan tujuan yang jelas didefinisikan dalam tujuan organisasi dan sasaran strategis dan tercermin dalam visi tentang akan bagaimana organisasi dimasa depan. Jika visi menggambarkan aspirasi organisasi dan akan menjadi seperti apa, maka misi menggambarkan organisasi dalam melakukan usaha, melayani pelanggan dan keahlian yang perlu dikembangkan untuk mencapai visi organisasi. Indikator misi adalah arah dan intensi strategis, tujuan dan sasaran, visi.
Perusahaan yang dapat hidup dan berkembang adalah perusahaan yang memiliki misi yang memuat hubungan yang seimbang antara para stakeholder dari perusahaan: (1) Investor dan stockholder (2) pemasok/supplier (3) manajer dan pegawai (4) masyarakat dan pemerintah (5) pelanggan.
Adanya tujuan dan sasaran organisasi yang berasal dari misi memberi arah pada manajer dalam membuat strategi yang tepat untuk mencapainya. Langkah yang dilakukan seorang manajer dapat berupa mengkomunikasikan tujuan dan sasaran organisasi, menciptakan perasaan bersama akan tugas yang harus dikerjakan untuk mencapainya. Apabila komunikasi telah berhasil dengan baik, maka anggota organisasi mempunyai kejelasan arah dan tujuan. Ada bukti yang meyakinkan bahwa kesuksesan kemungkinan besar terjadi ketika indvidu mempunyai tujuan terarah.
Hipotesis: Terdapat pengaruh positif yang signifikan antara dimensi misi dalam budaya organisasi terhadap kinerja manajerial


Dimana dimensi-dimensi budaya organisasi yaitu keterlibatan, konsistensi, adaptabilitas dan misi merupakan variabel independen, sedangkan kinerja manajerial merupakan variabel independen.


BAB III
KESIMPULAN

Kemampuan manajerial sangat di pengaruhi oleh budaya organisasi. Dengan berpedoman pada budaya organisasi, para manajer akan dapat mengatur suatu organisasi dengan baik. Manajer bekerja dengan siapa saja pada setiap tingkat baik didalam maupun di luar organisasi yang dapat membantunya dalam mencapai tujuan organisasi. Tujuan para manajer dalam setiap organisasi ialah menciptakan perilaku yang dikoordinasikan sehingga organisasi tersebut dinilai efektif oleh mereka yang mengevaluasi hasilnya.

Budaya organisasi adalah nilai-nilai yang dirasakan bersama oleh anggota organisasi (sub unit organisasi) yang diwujudkan dalam bentuk sikap perilaku dalam organisasi (Pratt dan Beaulieu, 1992. Schein (1992) mendefinisikan budaya organisasi sebagai pola asumsi dasar (digali, ditemukan atau dibangun suatu kelompok sebagai pembelajaran untuk menanggulangi masalah-masalah yang berkaitan dengan adaptasi).


PENUTUP
Demikian isi dari makalah ini. saya tahu makalah ini masih jauh dari kata sempurna, karena keterbatasan pengetahuan dan kurangnya sumber. Maka saya mengharapkan pembaca dapat memaklumi kekurangan dalam makalah ini.
Saya mengaharapkan kritikan dan saran yang membangun dari para pembaca sekalian. Semoga untuk penulisan makalah selanjutnya akan lebih baik dari makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca dan saya sendiri tentunya.

Social Networking menjadi Budaya di Masyarakat


Dunia internet masa kini sudah sampai titik nadir kepopuleritasnya, semua orang dimana saja dan disaat apa pun selalu terhubung dengan handphone atau komputer tablet yang terhubung dengan koneksi internet. Pasti yang terbayang pertama kali oleh kita sekalian adalah media social networking entah itu Facebook,Koprol,Twitter,Plurk, atau media micro blogging semacamnya. Terbayang oleh kita sekaliam pasti yang pertama di jelajah oleh kita-kita adalah microblog semacam itu. Status apa yang ter update atau bahkan kita meng update status kita sendiri. Memang benar kata seorang Filsuf kuno Yunani bahwa suatu saat kita dapat menggengam dunia dari tangan kita. Tentunya melalui internet yang kita langganani itu.

Perubahan cara perilaku seperti ini memang tidak kita sadari secara langsung efek nya, tapii lambat laun akan kita sadari ada apa dibalik itu semua dan ada apa di balik semua itu . Kita sekarang masih jaya jayanya untuk ber social networking bersama relasi atau teman kita untuk selalu berhubungan setiap waktu dan saat. Apa yang akan terjadi dua tahun ke depan atau tahun-tahun kedepan kita tidak akan tahu.

Efek yang akan terasa secara dini adalah kejenuhan kita terhadap teman kita atau orang-orang dekat kita. Kita berpikir secara psikologis saja kita setiap saat selalu ber social dengan sahabat yang satu ini lalu pada suatu ketika kita bertemu (meet) pasti kita akan meras jenuh akan pertemuan itu karena apa ? singkat saja otak kita di set untuk memiliki tingkat kejenuhan terhadap sesuatu yang dilakukan secara ber ulang ulang dan ber terus-terus. Otak kita akan memberikan rangsangan yang lain kepada kita dalam menghadapi sahabat kita yang satu itu. Dan endinngya hubungan friendship kita pasti akan kendor atau renggang. Karna itu tadi kita sudah merasa jenuh setiap kesempatan kita ber social diaman pun dan disaat apapun dengan orang-orang yang itu-itu saja atau orang lain. Ingat otak kita mempunyai titik kejenuhan janganlah anda menekan otak anda sampai batas limitnya karna yang terjadi pasti rasa jenuh itu akan melanda anda terhadap orang-orang terdekat anda.

Kurang pergaulan juga masalah yang hadir akibat dari era social networking ini, kita dituntut untuk ber social melalui dunia maya dengan teman-teman kita atau orang orang terdekat kita tanpa bertemu langsung. Secara psikologis anda akan merasakan tingkat ketidak perluan untuk bertemu dengan mereka karena anda menganggap dengan media social yang ada anda bisa memuaskan hasrat untuk bertemu kangen itu. Imposible sekali kalau anda merasa puas dan bahagia, karena anda diciptakan untuk merasakan kebahagiaan dan rasa-rasa yang lain pada saaat anda bertemu langsung dengan orang yang anda ingin temui. Nah dengan adanya media social networking itulah tingkat kepuasan hilang dalam diri kita dan kita akan cenderung menutup diri dari lingkungan sekitar kita. Kita malas untuk bertemu dengan orang lain, kita malas bertemu dengan orang-orang terdekat kita.

Perubahan-perubahan seperti inilah yang akan menyebabkan kita akan menjadi kurang pergaulan. It’s ok lah kita banyak teman dalam dunia maya tetapi dalam dunia nyata kita kekurangan teman dan sahabat. Anda tinggal memilih ? anda hidup didunia nyata atau di duniamaya.

Bodoh sekali orang yang mempunyai jaringan sampai beribu ribu dengan teman-teman di dunia maya tetapi di dunia nyata mereka hampa dan tanpa sahabat dekat. Kurang pergaulan adalah bencana untuk anda-anda sekalian yang diciptakan sebagai makhluk yang bersosial. Anda dituntut untuk bersosialisasi dengan orang lain dan saling membantu sesamanya. Jagan terbalik, anda malah bangga bersosialisasi dengan orang-orang yang belum tentu anda kenal di media social networking tetapi anda nihil bersosial dengan lingkungan sekitar anda. Bohong besar sekali kalau anda disebut manusia yang bersosial.

Lebih baik anda bersocial di dunia maya secukupnya saja untuk menjalin hubungan yang lain dengan orang-orang yang mempunyai kepentingan dengan kita dan mungkin dengan beberapa kondisi kita dan mereka jarang bisa bertemu. Atau model ber social networking yang berbasis komunitas bisa sedikit mendukung kita untuk menjadi orang yang ber sosial di dunia maya dan dunia nyata. Dimana kita membuat forum khusus komunitas atau grup kita dan membahas apa-apa yang diperlukan lantas ditindak lanjuti di lapangan secara bersama-sama itu mungkin lebih baik. Jadi keberadaan social network ini hanya digunakan sebagai batu loncatan peng informasiaan saja dan penjalinan pertemanan sementara (virtual). Itu lebih baik dari pada kita mengumpulkan banyak sekali member yang memfollow kita hanya untuk keperluan yang tidak penting malah tidak baik untuk kita sendiri.
Itu sedikit dari saya semoga ada sedikit manfaat untuk masyarakat internet Indonesia yang lagi gandrung-gandungnya untuk ber social networking dan ber microblogging di dunia maya.

Terimah kasih.!!

Pergaulan Bebas di Kalangan Remaja


Apakah pergaulan bebas itu?

Pergaulan bebas sering dikonotasikan dengan sesuatu yang negatif seperti seks bebas, narkoba, kehidupan malam, dan lain-lain. Memang istilah ini diadaptasi dari budaya barat dimana orang bebas untuk melakukan hal-hal diatas tanpa takut menyalahi norma-norma yang ada dalam masyarakat. Berbeda dengan budaya timur yang menganggap semua itu adalah hal tabu sehingga sering kali kita mendengar ungkapan “jauhi pergaulan bebas”.

Siapakah korban-korban yang telah terjerumus dalam pergaulan bebas?”KALANGAN REMAJA”,banyak sekali remaja-remaja indonesia yang telah mencoreng budaya indonesia atau negara kita ini.Sehingga dapat mengakibatkan rusaknya para penerus generasi kita.

Kapan itu terjadinya? “ pada saat para anak-anak laki atau perempuan mulai mengalami perubahan bentuk badan atau bisa di bilang juga memasuki frase remaja atau pemrosesan menjadi anak remaja secara perlahan seperti bentuk lekuk badan yang berubah,seperti lelaki misalnya ketika dia sudah di sunat mengalami perubahan bentuk postur tubuhnya yang semakin membesar,dan timbulnya sebuah rangsangan ketika berhadapan dengan wanita yang sama seperti itu beranjak dewasa,dan perubahan pada wanita nampak signifikan sekali seperti buah dada yang semakin membesar,pinggul yang berbentuk semakin melekuk,dll

Dimana pergaulan bebas itu berada?
Atau dimana pergaulan bebas itu terjadi?

“Pergaulan bebas itu terjadi dimana saja ,seperti di sekolah,lingkungan rumah,teman sepermainan,teman sekolah,teman kuliah,dll. Oleh karena itu perlu diwaspadai para orang tua – orang tua yang harus sigap memberi pengawasan kepada anaknya,bukan hanya di area sekolah saja,ataupun di area kampus,tetapi kapanpun dan dimanapun,peran orangtua itu sangat penting dalam memperhatikan pergaulan anak-anaknya ketika beranjak dewasa.

Mengapa pergaulan bebas itu sangatlah penting untuk di dihindari?
“Karena bagi para anak-anak yg beranjak dewasa sangatlah rentan kepada pendiriannya,,mudah terpengaruh buruk dlm pergaulan bebas.Dan kalau tidak ada tindakan antisipasi bisa hancur penerus generasi anak muda di negeri ini untuk kedepannya.

Bagaimanakah solusinya untuk menghindari pergaulan bebas tersebut?
“cara menghindari pergaulan bebas itu tersebut di kalangan remaja adalah:
Pendidikan yang cukup,pengawasan orangtua yang tak pernah berhenti,serta jangan lupa untuk beribadah untuk mempertebal iman para anak remaja tersebut.